Beberapa tahun lalu pernah saya ditanya adek kelas saya, “Mas Bud, abis kuliah (S1) ini mau lanjut kemana?”. Saya cuman jawab, “Kayaknya aku mau lanjut deh, cuman masih bingung mau lanjut kemana?”. Saya malah balik nanya hehe. Beberapa tahun lalu setelah saya melaksanakan sidang skripsi saya memang berencana untuk melanjutkan kuliah magister. Hanya saja, waktu itu masih ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama adalah faktor usia untuk memasuki dunia kerja, dan pertimbangan kedua adalah saya sebenernya pengen segera punya “pegangan” dan segera punya pasangan hidup.

Pertimbangan-pertimbangan di atas kiranya cukup lumrah untuk pola pikir seorang yang baru lulus kuliah dan masih ber-umur 22 tahun. Akhirnya dari segala pertimbangan tersebut, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Ya, kuliah magister, di kampus yang kebetulan berada dekat dengan rumah (ETA 2 H). Walaupun kampus bagus (menurut pendapat beberapa dosen yang saya percaya), hanya saya masih meragukan apakah saya bisa menyelesaikannya?

Program Studi Teknologi Kelautan, di peminatan Indraja dan Sistem Informasi Geografis Kelautan (ISK), saya menetapkan pilihan, dalam batin saya mungkin ini yang cocok dan sejalan dengan skripsi saya di S1 dulu. Saya pun memulai perkuliah di prodi tersebut dan menerima berbagai macam ilmu baru yang belum pernah saya dapatkan di jenjang sebelumnya. Awalnya agak mulus, memasuki semester selanjutnya saya mulai “mabok”, mengejar ketertinggalan. Saya tertinggal jauh, karena memang program yang saya ambil ini di bawah Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), dan dulu saya berasal dari Jurusan Perikanan. Apa yang saya dapat di Perikanan dengan apa yang saya dapat di Kelautan berbeda jauh. Walaupun ada beberapa kesamaan, akan tetapi dibandingkan dulu waktu kuliah di Perikanan, yang ini lebih “wah!”. Wah, itu apa?, Wah ini apa?, Wah, ini diapain?. Itu-lah kira-kira yang ada di dalam pikiran saya sewaktu kuliah di ISK di semester ke-2. Menjadi momok memang, akan tetapi ini pilihan yang saya sudah ambil, saya harus sebisa mungkin mempertanggung-jawabkan pilihan saya tersebut.

Memasuki semester ke-3, saya mulai memikirkan tentang penelitian apa yang akan saya ambil. Mulai dari awal memang saya sudah mulai memikirkan hal tersebut, dan memilih salah satu topik yang sudah di ajukan ke pihak Pascasarjana IPB di awal mendaftar. Pilihan penelitian yang saya ambil masih melanjutkan topik yang memang saya yakini masih bisa di lanjutkan dari skripsi saya dulu. Topik DPI (Daerah Penangkapan Ikan) pun akhirnya saya pertahankan hingga akhirnya menuju proses kolokium. Kolokium adalah mata kuliah wajib yang ada di Teknologi Kelautan, di mata kuliah tersebut kita mulai menggodok konsep dari topik yang kita ambil.

Kolokium berjalan, bukannya di godok, topik yang saya ajukan di tolak mentah-mentah. Beberapa dosen meragukan hasil penelitian saya di Perikanan dulu. Meragukan ketersediaan data dan validitasnya. Mulai dari data tangkapan yang rencananya saya ambil dari pihak PSDKP (Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan) yang memang memegang data terkait lokasi fishing-ground yang dilaporkan melalui VMS (Vessel Monitoring System). Selain data tersebut, mereka meragukan penggunaan data citra yang akan saya gunakan. Bukan salah citra satelitnya, melainkan salah dari algoritmanya. Ya saya menggunakan data citra satelit level-3, dimana pada level tersebut data satelit sudah siap pakai tergantung parameter yang kita akan amati. Para dosen menyebutkan bahwa data level-3 diturunkan menggunakan algoritma global yang di interpolasi. Data tersebut tidak cocok terhadap keadaan aktual di Indonesia. Topik saya yang sudah dijatuhkan dan dimentahkan tersebut akhirnya tumbang. Tidak dilanjutkan.

Seiring dengan semester ke-3 berjalan, saya menerima banyak masukkan dari beberapa senior saya yang kebetulan sedang melanjutkan juga di pascasarjana IPB. Mbak Benaya, Benaya Simeon, beliau memberikan saya saran untuk mengikuti kegiatan survey mengenai konservasi Hiu di daerah Banyuwangi yang akan di adakan oleh WWF. Saya di minta untuk mengirimkan proposal mengenai rencana zonasi dan pemetaan daerah ruaya Hiu yang akan digunakan sebagai dasar pertimbangan area yang akan dilindungi untuk konservasi Hiu. Saya pun membanting stir, yang asalnya topik saya mengenai DPI untuk ikan-ikan pelagis ekonomis penting, akhirnya saya memilih untuk mengambil topik tentang konservasi. Awalnya lumayan baik, sambutan dari dosen pembimbing saya pun cukup baik. Memang beberapa menyarankan saya untuk tidak terlalu dalam membahas mengenai topik konservasi dan lebih ditekankan terhadap topik pemetaan daerah ruaya Hiu yang akan di lindungi tersebut.

Beberapa ide bermunculan, mulai dari meneliti area terjadinya bycatch hiu, sebaran data panjang berat secara spasial, dan feed habbit. Ide tersebut kemudian saya olah hingga menjadi sebuah proposal penelitian yang siap dikirimkan ke pihak WWF. Proposal terkirim. Satu minggu berlalu, dua minggu berlalu, satu bulan berlalu. Belum ada balasan mengenai proposal yang saya kirimkan. Akhirnya di bulan kedua, ada email masuk. Mereka menginformasikan bahwa mereka tertarik dengan proposal penelitian saya dan saya di undang untuk mengikuti interview dan presentasi. Namun kabar baik sepertinya masih jauh. Saya menunggu kabar untuk dilaksanakannya interview dan presentasi namun tak ada tanggapan lebih lanjut.

Sambil berjalan, ketua komisi pembimbing saya, Prof. Dr. Vincentius P. Siregar, DEA memberikan masukkan. Sepertinya beliau tahu bahwa rencana saya dengan pihak WWF tidak berjalan lancar. Kebetulan saat itu saya sedang bersama rekan saya yang juga sedang memikirkan topik untuk tesisnya juga. Beliau menyarankan topik mengenai faktor atenuasi cahaya terhadap deteksi kedalaman perairan. Prof Vincent mengetahui bahwa Pusfatja (Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh) LAPAN memilki alat untuk menghitung downwelling irradiance. Data tersebut nantinya bisa digunakan untuk menghitung koefisien atenuasi difus. Saya yang asalnya dari jurusan Perikanan awalnya hanya bisa planga-plongo mendengar istilah-istilah tersebut. Tidak mengambil waktu banyak, saya mulai mencari tahu apa itu koefisien atenuasi dan bagaimana mengolah datanya.

Setelah tidak adanya kabar baik dari pihak WWF, kemudian saya mulai banting stir kembali. Yaa, banting stir kali ini cukup signifikan, benar-benar berbeda! Bukan karena saya sudah mulai kehabisan bahan untuk topik yang baru, namun saya sebenarnya cukup merasa penasaran dengan topik yang ditawarkan Prof. Vincent. Sebelumnya memang beliau menyarankan saya untuk menanyakan keberadaan alat tersebut dan bagaimana proses untuk peminjamannya. Saya diberikan kontak Pak Syarif Budhiman, beliau kebetulan adalah Kepala Bidang Program dan Fasilitas di Pusfatja, LAPAN. Pak Syarif juga merupakan salah satu orang yang pernah menggunakan alat tersebut untuk penelitian beliau selama mengambil program magister di ITC, Belanda.

Pemilihan topik yang cukup baru buat saya ini merupakan langkah besar dalam hidup saya.

Pasalnya adalah, penelitian mengenai koefisien atenuasi difus di Indonesia masih belum pernah dilakukan, khususnya koefisien atenuasi difus yang dihitung dengan menggunakan data Downwelling Irradiance (Ed). Dan juga dengan menggunakan sensor hyperspectral spectroradiometer. Saya mencoba memberanikan diri untuk mempelajari koefisien atenuasi difus. Dimulai dari metode pengambilan data, faktor-faktor yang mempengaruhi, hingga metode pengolahan data. Memang berat untuk seorang sarjana perikanan, hanya saja, saya yang telah memilih berarti saya yang harus mempertanggung jawabkan pilihan saya tersebut.

Proses pertama yang saya jalani dengan topik baru ini adalah, mencoba menghubungi Pak Syarif sebagai contact person kami dalam mengakses alat tersebut. Kesulitan mulai menghadang saya dan rekan saya, kesulitan tersebut sebenarnya cukup umum di alami, seperti kesulitan kami untuk menghubungi Pak Syarif karena beliau yang super sibuk. Saya mulai berkirim pesan melalui pesan singkat dengan beliau, dengan meng-atas-namakan Prof Vincent sebagai ketua komisi. Beliau sepertinya menyambut baik hal tersebut, karena memang sebelumnya antara Prof Vincent dan Pak Syarif sudah ada perbincangan untuk memanfaatkan alat tersebut bersama-sama antara IPB dengan LAPAN Pusfatja.

Tidak begitu lama, sekitar 3 bulan, semenjak saya mencoba menghubungi Pak Syarif. Saya bersama rekan saya diundang untuk datang ke kantor beliau. Beliau menyambut baik topik yang saya ajukan, dan beliau memberitahukan mengenai prosedur pemakaian alat tersebut (izin dan lain hal). Beliau menyampaikan bahwa sebenarnya alat tersebut tidak bisa sembarangan dipakai oleh eksternal Pusfatja LAPAN. Beliau menyarankan kami untuk mengikuti kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Pusfatja LAPAN yang menggunakan alat tersebut.

…. berlanjut ke part 2.