Sekarang jaman sudah bener-bener edan. Kenapa saya bilang edan? Karena sekarang kesadaran manusia mulai menurun ke arah yang tidak baik. Kalau bisa dibilang malah hampir mirip jaman jahiliyah. Orang baik dibilang salah, orang salah malah dibela-bela. Orang Islam semakin mundur akhlaknya. Umat agama lain yang jelas-jelas di kitabnya mengajarkan kebaikan dan cinta kasih justru malah berbuat sebaliknya. Berbuat yang sebenarnya sangat jauh dari apa yang diperintahkan-Nya dan semakin menolak untuk berkaca dan mengkoreksi diri sendiri.

Contohnya mungkin bisa terlihat dari orang-orang disekitar kita. Bahkan mungkin bisa jadi di keluarga kita sendiri. Wallahu-alam. Semoga keluarga kita terjauh dari sifat-sifat batil dan selalu memegang teguh ajaran agama yang kita percayai. Amin. Semoga.

Sekarang saya mau cerita mengenai pengalaman saya yang sebenarnya tidak jauh dari topik yang berada pada paragraf pembuka di atas. Saya sendiri sebenarnya manusia biasa, saya juga penuh salah dan khilaf. Tanpa ada pembenaran dari diri atau pembelaan, saya pun sebenarnya juga berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik dengan mengamalkan segala kebaikan dan contoh dari agama saya sendiri. Memang saya bukan mau men-judge orang lain seperti ini atau seperti itu. Saya hanya mau bercerita sedikit mengenai orang-orang yang ada disekeliling saya.

Bukan berarti orang disekeliling saya terfokus terhadap seseorang, kelompok atau golongan. Tetapi hanya beberapa orang yang sebenarnya saya menyayangkan bisa berbuat seperti orang-orang yang kurang memahami agama atau dengan pembenaran dirinya bahwa yang dilakukannya benar dan tidak menyalahi aturan dan tidak mengindahkan orang lain disekitarnya. Ya, memang hanya segelintir orang, tidak semua kebanyakan, seperti pembuka saya sebelumnya.

Saya saat ini mengalami apa yang namanya di-zhalimi, bisa dibilang saya sebagai manusia seperti tidak di anggap atau seperti diremehkan atau seperti diacuhkan. Mengapa?

Dimulailah cerita saya seperti ini. Saya saat ini sedang menempuh studi magister di Bogor. Saya memiliki beberapa teman. Ya mereka semuanya adalah teman-teman yang baik. Mereka berasal dari latar belakang yang bermacam-macam. Ada yang dari Jakarta, ada yang dari daerah, ada yang dulunya memang teman saya sewaktu S1, teman saya di studi magister maupun teman-teman saya yang berasal dari perguruan tinggi dimanna saya mengambil studi magister. Pada dasarnya mereka seperti yang saya sebut tadi adalah orang yang baik. Akan tetapi ada yang sebenarnya dia baik, akan tetapi dia selalu melakukan apa yang dinamakan memilih-milih teman dan selalu membeda-bedakan teman berdasarkan status atau kasta (mohon maaf apabila kasar).

Pada dasarnya memang mereka baik, akan tetapi mereka baik hanya apabila memang sedang memerlukan sesuatu dengan saya (saya pernah membahas ini di post saya sebelumnya). Bukan berarti orang yang sama atau dalam kelompok yang sama. Saya memang menganggap mereka sebagai teman saya. Teman yang saya bisa andalkan (apabila ada balasannya). Pernah suatu saat mereka memang sedang membutuhkan bantuan dari saya, mereka akan bersikap seolah saya adalah teman mereka. Akan tetapi setelah saya selesai membantu urusan mereka. Mereka seakan melupakan kita. Bukan melupakan tidak kenal, akan tetapi bersikap seolah saya ini hanya orang aneh yang mengerti dengan apa yang tidak mereka mengerti.

Pernah suatu saat saya sedang berada disuatu tempat. Dari kejauhan saya melihat mereka sedang asik bersenda-gurau, dan berdiskusi satu sama lain. Rasa penasaran saya timbul, karena mereka begitu antusias berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu hal yang saya tidak mengerti. Rasa kepo saya semakin besar. Karena saya berfikir mereka adalah teman saya, saya mencoba untuk mendekat dan berusaha mengikuti perbincangan dan diskusi mereka dengan menanyakannya secara santai dan sopan. Akan tetapi mereka yang (mungkin tidak) menganggap saya adalah teman mereka, mereka kemudian berhenti berdiskusi se-akan-akan tidak terjadi apa-apa.

Bagaimana apabila kamu yang berada di posisi saya?

Saya sudah mengetahui jawaban kamu. Ya, saya lantas hanya tersenyum dan masih terus berusaha membangun kembali atmosfir yang mereka punya sebelum saya datang dan bergabung pada diskusi itu. Namun usaha saya nihil. Tidak ada orang yang antusias. Mereka hanya tertunduk, terdiam bersama gadget mereka. Saya kembali tersenyum, saya berusaha menyembunyikan rasa kesal saya. Saya bertahan. Saya tidak lantas mengikuti mereka menggunakan gadget. Saya masih berusaha mencoba membangun atmosfir, walaupun sebenarnya sudah menjadi usaha yang sia-sia. Semua gurauan dan informasi yang saya sampaikan dalam diskusi di grup itu seperti layaknya sampah yang ditinggalkan orang-orang.

Saya, hanya berusaha untuk mengambil sikap positif thinking. Saya hanya menduga, mungkin disaat yang bersamaan, memang gadget mereka sedang bergetar dan ada pesan yang memang harus mereka segera balas. Setelah usaha saya untuk membangun atmosfir untuk diskusi mereka agar hidup kembali namun gagal. Saya memutuskan untuk pergi secara perlahan.

Bisa kamu tebak apa yang selanjutnya terjadi pada grup diskusi itu?

Saya hanya tersenyum kemudian dari jauh, saat saya pergi meninggalkan grup kecil itu. Kemudian grup kecil itu sontak mendapatkan kembali atmosfir-nya dan diskusi mereka kembali hidup. Bahkan lebih hidup dari sebelumnya.

Cerita tadi hanya sebagian kecil dari sekelumit dan segepok cerita yang saya punya mengenai grup kecil tersebut.

Saya heran. Saya mencoba melihat apakah ada yang salah dalam diri saya sendiri. Saya berusaha keras untuk mencari kesalahan itu. Namun saya hanya menemukan sedikit jawaban, dan jawaban itu berupa pertanyaan. “Apakah saya orang yang kaku dalam komunikasi, apakah saya orang yang tidak berada pada level yang sama dengan mereka, apakah saya orang yang membosankan menurut mereka?”.

Saya hanya berusaha untuk memperbaiki diri sendiri. Saya hanya merenungi apakah yang telah saya lakukan sehingga orang-orang yang berada pada grup tersebut tidak merasakan kehadiran saya dan tidak bisa menangkap apa yang saya sampaikan. Saya saat itu merasa ter-zhalimi. Saya sering dituntut oleh mereka untuk mengerti perasaan orang lain, mengerti kepentingan orang lain, dan mengerti apa yang dibutuhkan orang lain. Saya insya alloh sudah melakukan hal tersebut walaupun tidak sempurna. Akan tetapi saya masih menghargai mereka sebagai orang yang saya anggap sebagai teman saya.

Tetapi, mengapa mereka tidak bisa melakukan seperti itu hanya untuk hal sesimpel percakapan atau bersosialisasi dengan saya. Saya merasa mereka hanya mengabaikan saya dan tidak menganggap saya hadir dalam grup mereka. Padahal saya adalah orang yang berusaha untuk menjadi orang yang baik untuk mereka. Wallahu-alam. Saya tidak mengharapkan balasan dari mereka, YA Alloh, Mengapa hal ini terjadi pada orang-orang terdekat hamba. Hanya itu yang saya ucapkan dalam hati.

Semoga apa yang saya alami ini tidak terjadi terhadap teman-teman saya kelak. Hanya saya yang merasakan. Insya alloh saya bisa mengambil pelajaran dari apa yang saya alami ini. Saya akan berusaha menjadi orang yang baik dan orang yang bisa di andalkan oleh orang lain dan orang-orang yang berada di dekat saya. Amin.

Sedikit renungan, saya mendapatkan pelajaran ini dari kiriman seorang teman saya yang insya alloh orang yang baik.

20160328053512

Menurut saya, dalam persamaan sederhana di atas masih kurang satu lagi variabel. Variabel penting yang harus di tambahkan berdampingan dengan “Pemberian” yaitu “Ikhlas”. Kamu apabila memberikan satu ditambahkan dengan ikhlas makan insya alloh kamu bisa mendapatkan hasil yang lebih dari Alloh SWT bahkan tak terhingga. Karena apabila kamu memberikan satu dan tidak dibarengi dengan “Ikhlas”, niscaya apa yang kamu berikan akan sia-sia. Insya alloh kita semua ikhlas. Amin.